Seputar Air

Dapatkan artikel dan tips menarik seputar air dan kesehatan untuk seluruh keluarga Anda

Posts Tagged ‘Air Minum

Masyarakat Jatim Harus Waspada Mengonsumsi Air Minum

leave a comment »

AKHIR-akhir ini bisnis air semakin marak karena air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi makhluk hidup di samping udara. Apalagi bagi makhluk hidup yang namanya manusia. Bisa dibayangkan manakala kehidupan kita di dunia ini kehabisan sumber air dari dalam kandungan Bumi atau tidak ada kegiatan usaha menyuplai air untuk kebutuhan sehari-hari. Terutama air untuk kebutuhan minum.

BERKAITANNYA dengan menjamurnya bisnis air minum belakangan ini, pemerintah sebenarnya telah meregulasi melalui Keputusan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.

Di dalamnya ditetapkan parameter yang sangat penting untuk diketahui konsumen, apakah air minum itu masih merupakan air yang harus melalui proses pengolahan apabila akan dikonsumsi ataukah air minum itu tanpa proses pengolahan karena telah memenuhi syarat kesehatan sehingga dapat langsung diminum?

Kebutuhan kita terhadap air tidak hanya asal berupa air, apalagi untuk air minum, tetapi kita butuh air yang bersih dan sehat. Jika tidak, sudah barang tentu-cepat atau lambat-akan membahayakan kesehatan tubuh kita. Kebutuhan air minum bagi masyarakat konsumen selama ini dipasok oleh badan usaha milik daerah (BUMD), yaitu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan perusahaan swasta, yaitu air minum dalam kemasan (AMDK) yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) dan depo air yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Depo Air (Aspada). Tanpa kecuali, semuanya harus tunduk dan mematuhi Keputusan Menkes itu dalam menjaga kualitas air minum yang diperdagangkan untuk melindungi konsumen.

Ketika bahan baku air olahan PDAM masih disuplai langsung dari mata air yang bersih dan sehat, seperti dari mata air Umbulan untuk daerah Jawa Timur (Jatim), maka pada saat itu suplai air minum ke rumah-rumah konsumen tidak menimbulkan banyak masalah.

Biaya operasional PDAM pun hanya mendorong air dan perawatan jaringan distribusi ke setiap konsumen rumah tangga. Namun, ketika alat produksi dan pipa air jaringan distribusinya sudah banyak yang rusak karena dimakan usia, dan bahan baku air olahan PDAM diambil dari air sungai yang belakangan ini banyak tercemar limbah industri, dan akibat manajemennya sarat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), maka muncullah permasalahan yang merugikan konsumen.

Air keruh, berbau, volume distribusi air kecil dan tidak lancar, konsumen sulit mendapat jaringan baru, dan pelayanan petugas di lapangan yang tidak profesional adalah bentuk-bentuk keluhan konsumen PDAM yang berkembang akhir-akhir ini. Akhirnya, PDAM dipelesetkan menjadi Perusahaan Daerah Air Mandi. Pada gilirannya konsumen mencari alternatif air minum lain, yaitu air minum yang diproduksi AMDK dan depo air.

Koreksi harga AMDK

Industri AMDK pernah mencapai booming-nya dan tumbuh di mana-mana. Kini di setiap daerah pegunungan yang mengandung sumber air telah bercokol lebih dari satu perusahaan AMDK. Merek perdagangan AMDK di pasaran sangat beragam. Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 350 perusahaan AMDK dengan kapasitas produksi 7,10 miliar liter per tahun (Ditjen Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan Depperindag, 3 Juli 2002).

Dalam hal ini, posisi konsumen semakin diuntungkan karena semakin banyak pilihan air kemasan dan harga yang ditawarkan. Namun, harga AMDK dinilai konsumen masih mahal karena ketika harga per liter premium masih di bawah Rp 1.250, harga eceran AMDK yang berisi satu setengah liter di pasaran berkisar Rp 1.750 sampai Rp 2.250. Saat ini, harga per liter premium Rp 1.810, harga eceran AMDK berisi satu setengah liter itu berkisar Rp. 2.000 sampai Rp 2.500. Sedangkan, depo air menawarkan harga Rp 2.500 per galon berisi 19 liter.

Bersamaan dengan adanya perubahan kondisi perekonomian negara kita karena krisis moneter yang berawal pada tahun 1997, di mana daya beli masyarakat menurun dan harga kebutuhan pokok terus merambat naik, maka harga AMDK semakin dirasakan tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat.

Kenyataan ini ternyata membuka peluang usaha baru berupa depo air yang dikenal dengan sebutan “air isi ulang”. Usaha “air isi ulang” ini sesungguhnya sudah berlangsung lama, tetapi booming-nya baru dua tahun belakangan ini.

Menurut catatan Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur, pada tahun 2002 jumlah depo air mencapai 778 unit yang tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa. Di Surabaya, saat ini tercatat tidak kurang dari 300 unit, belum termasuk depo air di luar Surabaya.

Menjamurnya bisnis depo air ini secara tidak langsung mengoreksi harga AMDK yang dinilai konsumen masih terlalu mahal. Namun, bagaimana dengan jaminan keamanan dan kesehatan konsumen yang mengonsumsinya? Itulah persoalan yang muncul ke permukaan akhir-akhir ini.

Akibat salah kaprah

Belakangan ini depo air mendapat koreksi dari pihak perusahaan AMDK sehubungan dengan maraknya penggunaan istilah “air isi ulang”. Isi ulang mengandung pengertian refill, yaitu pengisian kembali dengan produk air minum AMDK dengan merek yang sama.

Namun, kenyataan yang terjadi sebaliknya. “Air isi ulang” itu bukan hasil produksi AMDK merek tertentu seperti tercantum dalam botol/galon kemasan. Karena itu, masuk akal jika pihak perusahaan AMDK keberatan terhadap penggunaan istilah “air isi ulang” dengan memanfaatkan botol/galon AMDK merek tertentu (hal ini jika istilah “isi ulang” dipersepsikan seperti kartu telepon isi ulang yang hanya dapat dilakukan isi ulang pulsa dalam satu jenis operator).

Jika terdapat gangguan kesehatan bagi konsumen akibat mengonsumsinya, maka pihak perusahaan AMDK yang merek dagangnya yang tercantum di dalam botol/galon kemasan “air isi ulang” itu yang akan mendapatkan getahnya. Hal ini bisa saja terjadi manakala proses sterilisasi botol/galonnya tidak sempurna sebelum pengisian “air isi ulang”.

Bisnis “air isi ulang” ini kebanyakan dikelola perorangan (home industry) dan sebagian ada yang dikelola perusahaan. Namun, belum ada satu pun pengusaha yang bergerak di bidang usaha depo air di Jawa Timur yang telah mendapatkan izin dari Depperindag (Kompas, 26 Januari 2002). Istilah “air isi ulang” telah menjadi salah kaprah. Makanya, pemakaian istilah “air isi ulang” itu perlu diluruskan secara bijak agar tidak menyesatkan konsumen. Paling tidak, para pelaku usaha depo air harus mematuhi persyaratan air seperti diatur dalam Keputusan Menkes itu guna melindungi konsumen.

Karena peraturan ini tidak saja untuk mengatur persyaratan dan pengawasan kualitas air produk AMDK, tetapi sesungguhnya juga untuk mengatur dan mengawasi kualitas air PDAM dan depo air apakah telah memenuhi syarat keamanan dan kesehatan konsumen atau tidak.

Beberapa jenis air minum yang harus memenuhi persyaratan menurut Pasal 2 Keputusan Menkes itu adalah air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga, air yang didistribusikan melalui tangki air, air kemasan, dan air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang disajikan kepada masyarakat.

Semuanya itu harus memenuhi syarat kesehatan air minum. Persyaratan kesehatan air minum itu meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif, dan fisik. Pengawasannya dilaksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota meliputi kegiatan: inspeksi sanitasi air baku, proses produksi, jaringan distribusi, dan air minum isi ulang dan air minum dalam kemasan.

Namun masalahnya, dinas kesehatan kabupaten/kota sampai saat ini, entah karena keterbatasan teknologi (alat uji) laboratoriumnya, entah karena keterbatasan sumber daya manusianya, atau entah memang karena mereka malas melakukan pengawasan dan penelitian terhadap kualitas air hasil produksi dari BUMD maupun swasta di daerahnya masing-masing sehingga dirasakan masyarakat bahwa kepedulian pemerintah daerah (pemda) untuk melindungi rakyatnya selaku konsumen masih sangat rendah.

Semestinya pemda melalui dinas terkait itu dapat melakukan inspeksi pengawasan kualitas air produksi BUMD maupun swasta secara berkala sesuai dengan amanat Lampiran III Keputusan Menkes Tanggal 29 Juli 2002 tentang Pelaksanaan Pengawasan Internal Kualitas Air oleh Pengelola Penyediaan Air Minum.

Harus pro-aktif

Mengingat kepedulian pengawasan dan penelitian terhadap kualitas air minum dari dinas kesehatan kabupaten/kota masih minim terhadap keberadaan air minum yang diproduksi oleh BUMD maupun swasta, maka dalam hal ini dari pihak konsumen harus bersikap kritis atau cerewet untuk menanyakan kualitas air yang akan dikonsumsinya.

Karena menurut hasil penelitian tim peneliti dari Laboratorium Teknologi dan Manajemen Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) diketahui terdapat 16 persen dari 120 sampel depo air yang diambil di 10 kota besar di Indonesia terkontaminasi bakteri coliform (Kompas, 26 April 2003).

Hasil penelitian ini mendapat penguatan dari hasil penelitian Badan Pengawas Obat dan Minuman (POM) Jakarta, bahwa sebanyak 19 depo air dari 95 depo air yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya, Medan, Bandung, Semarang, dan Surabaya tidak memenuhi syarat karena mengandung mikroba (Kompas, 23 Mei 2003).

Bahkan ditegaskan, sembilan di antaranya tercemar logam berat (katmium) melebihi batas yang diperbolehkan. Untuk menghindari dampaknya, maka bagi konsumen paling tidak ada dua hal yang perlu diketahui dengan menanyakan langsung kepada pelaku usaha. Dan, pelaku usaha wajib memberikan informasi tentang kualitas air hasil produksinya dan hasil pemeriksaan dari dinas terkait kepada konsumen sesuai dengan masa berlakunya dengan jelas dan jujur. Biasanya sertifikat kualitas air dan masa berlakunya ditempelkan di bagian sudut ruangan terbuka tempat usaha yang dapat dilihat dan dibaca oleh masyarakat umum.

Pertama, menanyakan apakah air tersebut telah memenuhi standar kualitas air minum yang layak dikonsumsi secara langsung atau tidak (masih perlu dimasak). Setidak-tidaknya konsumen harus tahu bahwa air minum itu apakah sudah lolos uji kimia untuk mengetahui kandungan kimia dalam air seperti pH, air raksa, aluminium, besi, dan klorida.

Selain itu, konsumen harus tahu bahwa air minum itu lolos uji fisika, yaitu untuk mengetahui bau, jumlah padat berlarut, kekeruhan, rasa, suhu, dan warna. Tidak kalah pentingnya adalah konsumen harus juga mengetahui bahwa air minum itu harus sudah lolos uji mikrobiologis, yaitu mengetahui bakteri E coli. Singkatnya, konsumen harus mengetahui bahwa air minum itu telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) No 01.3553 Tahun 1996 atau tidak.

Kedua, konsumen harus mempunyai informasi tentang alat produksi air minum dari dinas terkait maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) perlindungan konsumen. Apakah alat produksinya sesuai standar dan selalu dilakukan kalibrasi (uji ulang) setelah melakukan proses produksi dalam waktu lama? Karena setiap alat produksi mempunyai masa aus dalam waktu tertentu dan akan menurunkan kualitas air hasil produksinya.

Dalam konteks ini, dinas kesehatan kabupaten/kota mempunyai wewenang untuk memeriksa dan mengumumkan kepada publik hasil pemeriksaan kalibrasi kondisi peralatan produksi air di setiap perusahaan air minum, termasuk juga terhadap alat produksi yang dimiliki BUMD. Karena hasil produksi air PDAM umpamanya, dinilai konsumen tidak layak disebut air minum. Terutama kalau kita menggunakan parameter persyaratan air minum yang tercantum dalam Keputusan Menkes itu.

Dua hal itu seharusnya dipenuhi oleh setiap perusahaan air minum dan diketahui publik. Kepatuhan untuk melengkapi persyaratan secara berkala dan terus-menerus bagi setiap pelaku usaha air minum akan memberikan jaminan kesehatan konsumen.

Begitu juga bilamana pelaku usaha memberikan informasi secara benar dan jujur kepada konsumen dan memeriksakan hasil produksinya secara pro-aktif di laboratorium sesuai dengan tenggang waktu yang ditetapkan di dalam Keputusan Menkes itu akan memberikan dampak positif bagi keberadaan bisnis air minum pada umumnya.

Tidak ada salahnya jika usaha depo air memproduksi air yang sama kualitasnya atau bahkan mungkin melebihi dari kualitas air hasil produksi AMDK. Sebaliknya, perusahaan AMDK jangan sampai menurunkan kualitas air minum hasil produksinya karena cepat atau lambat akan ditinggalkan konsumen. Memproduksi air minum yang memenuhi standar SNI dengan harga yang kompetitif berarti ikut membangun kesehatan masyarakat dan membantu meringankan beban ekonomi rakyat yang sedang terpuruk ini. Itulah yang harus kita galang bersama!

M SAID SUTOMO Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur

Written by oxycjdw1

Agustus 22, 2008 at 2:08 pm

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with ,

Pilih Air Minum Kemasan atau Isi Ulang?

with 2 comments

  • Terserah Anda, mau pilih air minum yang mana. Yang jelas, harga air minum isi ulang jauh lebih murah, meski standar kesehatannya tak seketat Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Masing-masing tentu memiliki keunggulan dan kekurangan.

Air Kemasan

Kelebihan:

  • Kualitas air terjamin, tapi semuanya tergantung bagaimana konsumen memilih, terutama mengenai tempat membelinya.
  • Kontrol kualitasnya ketat, sehingga kemungkinan terkontaminasi bakteri yang merugikan relatif minim.
  • Mudah didapat.

Kelemahan:

  • Relatif mahal bagi kalangan masyarakat tertentu.
  • Dalam kasus tertentu terjadi kontaminasi bakteri merugikan karena proses distribusi yang tidak baik.

Air Isi Ulang

Kelebihan:

  • Relatif murah, sepertiga harga AMDK.
  • Mudah didapat.
  • Meski tidak semuanya, kualitas air sudah memenuhi standar Departemen Kesehatan. Ini tergantung kualitas mesin, sanitasi, dan bahan baku airnya.

Kelemahan:

  • Lemahnya pengawasan dan pembinaan membuat mutu air cenderung labil (tidak konsisten).
  • Terjadinya salah produksi relatif tinggi, terutama menyangkut pemilihan bahan baku, sanitasi, dan pemilihan alat. Semua itu bisa mempengaruhi kualitas air.
  • Tidak ada aturan yang jelas tentang jasa layanan depo isi ulang menyangkut kualitas produksi, sehingga tidak ada perlindungan hukum secara khusus terhadap konsumen jika terjadi kasus yang tidak diinginkan.
  • Proses pengemasannya hanya mengandalkan teknologi sederhana yang seringkali menjadi penyebab terkontaminasinya air oleh bakteri.

Sumber: berbagai sumber (konsumen, Depkes, Badan POM, dan pelaku usaha depo air minum)

Kiat Memilih Air Kemasan

  • Pilih tempat penjualannya. Jangan membeli di sembarang tempat. Kemasan hebat dan harga supermahal bukanlah jaminan.
  • Cermati labelnya, apakah tercantum alamat produsen, komposisi, proses yang dipakai untuk sterilisasi, juga petunjuk penyimpanan?
  • Cek keutuhan segelnya.
  • Cek kualitas air secara fisik, yakni dari kejernihan, bau, serta warnanya.
  • Untuk memastikannya, bisa melakukan uji kimiawi di laboratorium.@

Air Isi Ulang: Sumber Baku Tercemar

  • Ketua Tim Peneliti IPB, Dr. Suprihatin, menjelaskan bahwa sampel air minum di depo isi ulang yang diteliti di 10 kota besar Indonesia diketahui tercemar bakteri coliform.

Jenis bakteri ini tidak secara langsung menimbulkan penyakit, tapi kehadirannya menunjukkan tingkat sanitasi yang rendah.

Semakin tinggi tingkat kontaminasi bakteri ini, risiko kehadiran bakteri patogen lain yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akan semakin tinggi pula.

Keberadaan bakteri tersebut menurutnya bisa disebabkan oleh beberapa hal. Mungkin karena sumber air bakunya tercemar atau pemaparan radiasi dengan sinar ultraviolet kurang memadai, sehingga bakteri tidak terbasmi selama penyinaran. Mutu peralatan yang digunakan para pengusaha juga bervariasi dan tidak semua memenuhi standar produk.

Sementara itu, hasil pengujian laboratorium yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atas kualitas air minum di sejumlah depo isi ulang menunjukkan adanya cemaran mikroba dan logam berat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.907/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, pengawasan mutu air pada depo air minum menjadi tugas dan tanggung jawab Dinas Kesehatan kabupaten atau kota.

Namun, sebagai upaya perlindungan kepada masyarakat, BPOM melakukan pengambilan contoh dan pengujian laboratorium terhadap mutu air di 95 depo di lima kota. Sebanyak 29 depo di Jakarta dan sekitarnya, 9 depo di Medan, 20 di Bandung, 14 di Semarang, dan 23 di Surabaya. Fokus pemeriksaan itu pada sumber air baku, proses sterilisasi, dan pengambilan contoh produk untuk diuji di laboratorium.

Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan, Prof. Dr. Ir. Dedi Fardiaz, M.Sc, menambahkan bahwa sebagian besar air baku berasal dari sumber mata air yang diangkut dengan tangki (78 depo), air PAM (10), dan air tanah (7). Proses sterilisasi untuk mengolahnya menggunakan sinar ultraviolet/UV (53 depo), ozon (2), UV dan ozon (28), UV, ozon, dan osmosis balik (1), serta cara lain (11).

Hasilnya, 76 depo memenuhi syarat mutu, sedangkan 19 lainnya tidak memenuhi syarat karena mengandung mikroba. Bahkan sembilan di antaranya tercemar logam berat (kadmium) melebihi batas yang diperbolehkan.

Dianggap Masalah

  • Berdasarkan pantauan SENIOR, kebanyakan konsumen tidak begitu peduli dengan hasil penelitian tersebut.

Rudi, pengemudi angkutan kota di terminal Pasar Minggu, mengaku lebih memilih air minum isi ulang dibandingkan dengan air kemasan bermerek dengan alasan lebih murah.

“Selama ini memang tidak ada persoalan. Terus terang, saya tidak tahu hasil penelitian itu. Tapi, jika airnya memang bersih dan layak dikonsumsi tentu tidak ada masalah,” ujarnya.

Meski begitu, sebagian konsumen mengharapkan kepedulian pemerintah maupun pengusaha depo isi ulang untuk memperhatikan mutu kualitas bahan baku air serta peralatan yang digunakan. Jamilah misalnya, mengaku dalam seminggu tak kurang dari tiga galon (@ 19 liter) air isi ulang itu dihabiskan untuk keperluan keluarga dan warung makannya. “Saya hanya lihat tempatnya. Kalau memang bersih, kemungkinan airnya juga bersih. Kalaupun tanya, paling sumber airnya. Kebanyakan dari PDAM dan air tanah,” tambahnya.

Sebagian pemilik depo air isi ulang justru mempertanyakan kepedulian pemerintah dan instansi terkait untuk selalu memberikan pembinaan dan pengawasan. Beberapa pemilik depo berpendapat, selama ini pemerintah justru menanggapi keberadaan depo itu sebagai masalah. Padahal, menurut mereka, masyarakat sebagai konsumen sangat terbantu dengan keberadaan depo isi ulang.

“Kami ini ibarat orang menjual kepercayaan, sekali tidak dipercaya habislah usaha. Karena itu, saya selalu menjaga bahan baku dan perawatan peralatan. Lebih dari itu, pemerintah juga harus selalu mengawasi pengusaha depo yang tidak benar, agar kami tidak ikut dirugikan,” ujar Sumarno pemilik depo air di Pejaten, Jakarta Selatan.

Kompas.com

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 at 9:33 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

Mencari Air Minum yang Murah dan Aman

leave a comment »

Kecenderungan penggunaan air isi ulang oleh masyarakat di perkotaan semakin meningkat. Buruknya kondisi lingkungan membuat mereka khawatir untuk mengonsumsi air tanah, bahkan air leding yang disediakan pemerintah. Sayangnya, tidak semua air minum isi ulang dikelola dengan baik sesuai persyaratan.

Sebuah depo pengisian air minum isi ulang di kawasan perumahan di Tangerang, misalnya, sudah hampir dua tahun ini tidak menggunakan sinar ultraviolet untuk mensterilkan air yang masuk ke galon.

Pencucian galon di dalam ruang tertutup yang disinari ultraviolet juga sudah tidak lagi dilakukan. Galon-galon milik pelanggan hanya dicuci dengan menyemprotkan air tekanan tinggi kemudian disikat dengan bulu-bulu sikat yang berputar. Terkadang air minum tersebut masih berasa tanah meskipun sudah direbus.

Air minum isi ulang (AMIU) banyak dipilih ibu rumah tangga karena harganya jauh lebih murah dari air minum dalam kemasan dengan merek tertentu. Satu galon air minum isi ulang harganya berkisar Rp 3.000, sedangkan air minum kemasan mencapai Rp 9.000 per gallon.

“Kalau air kemasan dipakai untuk minum dan memasak, bisa habis duit berapa dalam satu bulan,” kata Sundari (42), warga Tangerang. Meskipun sudah memiliki air fasilitas air leding, Sundari hanya menggunakan air itu untuk mandi, mencuci baju, atau menyirami tanaman. Menurut Sundari, air leding tidak enak dikonsumsi karena sering bau atau berasa kaporit. Terkadang malah airnya berwarna hitam dan berpasir.

Lain lagi bagi Lukman (33), warga Duri Kosambi, Jakarta Barat. Demi mendapatkan air bersih untuk masak dan minum, Lukman membeli air pikulan dengan harga Rp 3.000 per pikul (dua jeriken besar).

Air pikulan jelas-jelas tidak bisa langsung diminum dan harus direbus hingga mendidih terlebih dulu sebelum diminum. Sementara itu, AMIU menimbulkan dua pendapat yang berbeda, sebagian menganggap AMIU bisa langsung dikonsumsi sebagian lagi sebaliknya.

Memilih depo

Penggunaan AMIU yang mulai marak sejak awal tahun 2000 sempat menimbulkan pro dan kontra. Para pengusaha air minum dalam kemasan (AMDK) menuding AMIU tidak steril dan tidak bisa langsung diminum seperti produk mereka yang sudah siap pakai.

Tudingan itu tentu saja ditampik keras oleh para pengusaha AMIU. Mereka curiga tudingan itu merupakan trik dagang yang dilakukan para pengusaha AMDK untuk menyingkirkan pesaing.

Demi mendapatkan air bersih yang bisa dikonsumsi setiap hari, kita memang berhak membeli air minum sesuai dengan isi kantong. Namun, sebaiknya, kita juga harus pandai-pandai memilih depo pengisian AMIU karena masing-masing depo memiliki kualitas mesin penyuling air yang berbeda-beda.

Kualitas mesin penyuling air ini sangat menentukan kualitas air yang diproduksi. Seorang pengusaha AMIU di Tangerang mengatakan, mesin dengan kualitas bagus harganya lebih dari Rp 50 juta. Mesin ini menggunakan sistem penyulingan dan ozonisasi yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri. Mesin yang harganya lebih murah biasanya hanya menggunakan sistem penyulingan saja.

Peneliti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Ilyani S Andang, mengatakan, apa pun teknologi yang digunakan, air yang diproduksi harus sesuai dengan standar air minum Indonesia.

Sesuai standar, air minum (air yang bisa dikonsumsi langsung) harus memenuhi syarat fisik, kimia, dan mikrobiologi. Syarat fisik meliputi, air tidak boleh berasa, berwarna ataupun berbau. Sedangkan syarat kimia mengharuskan air bebas dari kandungan bahan kimia berbahaya. Air juga tidak boleh mengandung bakteri patogen (penyebab penyakit).

Banyak penelitian menyebutkan, AMIU memang sudah bebas dari syarat fisik dan kimia. Namun, sebagian AMIU masih belum bebas dari bakteri coliform. Salah satu jenis coliform, yaitu bakteri Escherichia coli (E Coli) bisa menyebabkan diare berat.

Pengawasan kualitas AMIU yang dijual bebas di jalan menjadi tanggung jawab dinas kesehatan masing-masing daerah atau wilayah kota. Hasil pemeriksaan sampel AMIU tahun 2005 dan tahun 2006 yang dilakukan Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat menunjukkan, antara 40 persen-60 persen dari sampel air yang diambil masih mengandung bakteri E Coli.

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Sudin Kesmas Jakarta Pusat Dini Wardiani menyarankan, agar aman, AMIU harus tetap direbus hingga mendidih dalam suhu 100 derajat Celsius. Pemanasan dilakukan selama minimal sepuluh menit agar bakterinya mati. (Lusiana Indriasari dan Dahono Fitrianto)

http://www.kcm.co.id/

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 at 9:32 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

Minum Soda? Pikir-Pikir Dulu Deh!

leave a comment »

Cuaca panas seperti sekarang paling enak memang minum segelas soda dingin. Kerongkongan yang kering langsung terasa segar. Tapi, selama ini banyak rumor yang menyebutkan minuman bersoda bahaya untuk kesehatan, terutama tulang. Bisakah rumor itu dipertanggungjawabkan? Jawabannya, “mungkin”. Joyce Hendley, kontributor Eating Well Media Group, membeberkan tiga alasan mengapa Anda perlu pikir-pikir lagi sebelum menenggak sekaleng soda.

1. Soda Sebabkan Tulang Rapuh
Ada sejumlah penelitian yang mengaitkan minuman soda dengan tulang rapuh. Tapi ini bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Pasalnya, banyak makanan yang bisa meningkatkan kekuatan tulang.

2. Tinggi Kandungan Kafeinnya
Selain kafein, minuman soda juga mengandung zat-zat aditif lainnya. Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Creighton University, Nebraska, AS, tahun 2001, ditemukan jumlah kalsium dalam tubuh akan berkurang setelah mengonsumsi minuman berkarbonasi yang memang tinggi kafeinnya.

Sebuah studi di tahun 2006 juga menyatakan, wanita yang mengonsumsi minuman soda tiga kali dalam seminggu selama bertahun-tahun memang memiliki kepadatan tulang yang lebih rendah dibanding dengan mereka yang lebih banyak minum air putih.

3. Mengandung Gula
Dibandingkan dengan minuman lain, minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Dalam sekaleng soda terkandung sedikitnya sembilan sendok teh gula. Padahal, kebutuhan gula dalam tubuh kita tak boleh lebih dari empat sendok teh per hari. Bayangkan jika Anda minum minuman bersoda tiga kali dalam sehari!

http://www.kompas.com

Written by oxycjdw1

Agustus 19, 2008 at 3:18 pm

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with ,

Ingin Pergi? Bawa Sebotol Air Minum

leave a comment »

KEBIASAAN membawa botol air minum dalam perjalanan atau saat pergi ke mana pun mungkin belum menjadi  tren di masyarakat. Bila haus di tengah jalan, kebanyakan dari kita lebih suka membeli sebotol minuman ringan beraroma teh atau soda atau pun air mineral.

Kebutuhan tubuh akan cairan memang tak bisa dibantah. Cairan penting dalam memelihara keseimbangan serta proses metabolisme tubuh.  Bila asupan cairan ke dalam tubuh tak seimbang dengan pengeluaran, maka dipastikan Anda akan mengalami gangguan atau pun dehidrasi.

Dalam memenuhi kebutuhan cairan, sebaiknya pilihlah minuman yang baik dan tak menimbulkan risiko bagi kesehatan. Salah satu yang terbaik tentunya adalah air putih, meski faktanya cairan ini kalah populer ketimbang minuman beraroma dan beranekarasa yang beredar di pasaran.

Nah supaya Anda tidak meremehkan khasiat air putih, berikut adalah enam  fakta ilmiah betapa kebiasaan minum cukup air putih setiap hari penting bagi tubuh.

1. Mempertahankan keseimbangan  cairan tubuh.
Fakta medis menunjukkan tubuh manusia 60% terdiri dari cairan.  Fungsi-fungsi cairan ini adalah untukproses pencernaan, penyerapan, sirkulasi, produksi air ludah, transportasi nutrisi dan mempertahankan suhu tubuh.

2.  Membantu mengendalikan kalori.
Sejak lama, orang yang sedang menjalani program diet melakukan kebiasaan banyak minum air putih sebagai strategi menurunkan berat badan.  Meskipun air tidak menghasilkan efek magis, menggunakannya sebagai pengganti minuman berkalori tinggi tentu saja akan sangat membantu.

“Program diet akan berhasil jika  Anda memilih air atau minuman non- kalori sebagai pengganti minuman yang kalori.  Lalu diet dengan makanan yang kaya cairan yang lebih menyehatkan, berisi dan membantu Anda memangkas kalori,”ungkap peneliti dari University State of Pennsylvania  Barbara Rolls, PhD, penulis buku The Volumetrics Weight Control Plan.

3. Membantu membangkitkan otot.
Sel-sel yang tidak mampu mempertahankan keseimbangan akan cairan dan elektrolit, akan berakibat pada kelelahan otot.  Ketika sel-sel otot tidak memiliki cairan yang cukup, mereka tidak akan berfungsi dengan baik dan kemampuannya berkurang.

Minum air saat berolahraga juga sangat penting.  American College of Sports Medicine merekomendasikan bahwa dua jam sebelum berolahraga sebaiknya seseorang meminum 17 ons cairan.

4.  Membuat kulit tetap bercahaya.
Kulit Anda sebenarnya mengandung banyak air dan berfungsi sebagai benteng dalam mencegah ekses hilangnya cairan tubuh.  Namun begitu, jangan harap bahwa kelebihan cairan dapat dijadikan sebagai cara ampuh menghilangkan kerutan dari garis pada kulit .

5.  Memelihara fungsi ginjal
Cairan tubuh merupakan media yang juga mentransportasikan sisa atau limbah untuk keluar dan masuk ke  dalam sel.  Racun utama dalam tubuh adalah nitrogen urea darah,  sejenis cairan yang dapat melewati ginjal untuk kemudian diprose dan dieksresikan dalam bentuk urin.

Ketika tubuh memiliki cukup cairan, urin akan mengalir bebas, jernih dan bebas bau.  Ketika tubuh tidak punya cuku cairan, konsentrasi urin, warna dan bau akan lebih kentara karena ginjal harus menyerap cairan ekstra untuk menjalankan fungsinya.  Tak heran bila Anda minum sedikit air, risiko Anda mengalami batu ginjal akan meningkat terutama pada iklim hangat atau panas.

6.  Mempertahankan fungsi normal usus.
Asupan cairan yang cukup akan membuat makanan yang melewati saluran cerna dapat mengalir lancar dan mencegah terjadinya kosntipasi.  Ketika Anda tidak punya cukup cairan, usus akan menyerap cairan dari feses atau tinja untuk tetap menjaga hidrasi.  Alhasil, tentu saja buang air besar Anda akan bermasalah.

Written by oxycjdw1

Agustus 19, 2008 at 2:56 pm

Ditulis dalam Air Minum, Lingkungan, Tips Kesehatan

Tagged with

Jenis Air Minum

leave a comment »

Dalam kondisi tertentu, 5 jenis air berikut ini bisa menjadi nitrit dan zat lain yang beracun dan merusak, dapat menyebabkan kerusakan tertentu terhadap tubuh manusia.

Air Usang :
Atau yang dikenal (air mati), artinya air yang sudah tersimpan lama dan tidak di gunakan (minum). Jika sering mengonsumsi air demikian, dapat menyebabkan metabolisme sel anak-anak yang belum dewasa melamban, akibatnya mempengaruhi pertumbuhan tubuhnya, penuaan pada laki-laki setengah umur akan bertambah cepat, rasio terjadinya penyakit kanker lambung dan kanker kerongkongan di sejumlah besar daerah terus meningkat, ini mungkin
berhubungan dengan seringnya mengonsumsi air usang. Zat beracun dalam air usang akan terus bertambah dan bertambah seiring dengan masa penyimpanan air.

Air mendidih lama :
Air mendidih lama adalah air yang sudah mendidih sepanjang malam atau sudah lama di kompor. Air demikian, karena dimasak terlalu lama, sehingga zat yang tidak menghawa dalam air seperti kalsium, magnesium atau kandungan logam berat lain dan nitrit sangat tinggi. Jika minum air seperti ini dalam jangka panjang, dapat mengganggu fungsi lambung dan usus, terjadi diare sementara, perut kembung, nitrit yang mengandung racun dapat mengakibatkan organisme kekurangan oksigen, jika parah bisa pingsan dan kejang, bahkan kematian.

Air panci kukus :
Yang dimaksud air panci kukus adalah air kukusan mantou atau air sisa kukus, air panci kukus yang digunakan secara berulang-ulang, kepekatan nitritnya sangat tinggi. Jika sering mengonsumsi air demikian, atau memasak bubur dengan air demikian, dapat menyebabkan nitrit keracunan, kerak kerap meresap ke tubuh mengikuti air, dapat menyebabkan perubahan patologis pada sistem pencernaan, saraf, saluran kemih dan pembuatan darah, bahkan mengakibatkan penuaan dini.

Air yang tidak dimasak :
Air ledeng yang kita konsumsi, semuanya melalui proses klorin. Dalam air yang diproses klorin dapat memisahkan 13 jenis zat merugikan, di antaranya hidrokarbon halogen, klorofom yang berefek menyebabkan kanker dan cacat. Saat suhu air mencapai 90 °C, kadar hidrokarbon halogen yang semula 53 mg/kg-nya naik menjadi 177 mg, 2 kali lipat lebih tinggi dari standar
kesehatan air minum nasional yang ditetapkan. Ahli terkait menuturkan, bahwa kemungkinan terjangkit penyakit kanker kandung kemih dan kanker poros usus dengan mengonsumsi air yang belum dimasak meningkat 21-38 %. Ketika suhu air mencapai 100 °C, kedua zat yang merusak ini akan berkurang drastis seiring dengan penguapan, dan aman dikonsumsi jika di-didihkan lagi selama 3 menit.

Air yang dimasak kembali :
Ada yang terbiasa minum air yang dimasak kembali dari air yang tersisa dalam termos, tujuannya adalah menghemat air, menghemat batu bara (gas) dan waktu. Tapi penghematan ini tidak layak. Sebab air yang sudah dimasak kemudian direbus lagi, membuat air menguap lagi, sehingga dengan demikian nitritnya akan meningkat, dan jika sering mengonsumsi air demikian akan terjadi penumpukan nitrit di dalam tubuh. (Sumber Secret China)

Written by oxycjdw1

Agustus 19, 2008 at 2:35 pm

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.