Seputar Air

Dapatkan artikel dan tips menarik seputar air dan kesehatan untuk seluruh keluarga Anda

Air, Tetaplah Air

leave a comment »

Kebutuhan penduduk urban akan air yang bersih menjadi motif ekonomi lahirnya industri air minum dalam kemasan. Air minum yang bersih, selalu dan akan terus menjadi masalah penduduk urban dalam beberapa dekade ke depan. Meski pemerintah telah memiliki Perusahaan Air Minum (PAM) untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, toh tingkat kepercayaan untuk minum air ledeng (sekalipun sudah direbus) tidak pernah meningkat.

Pasar industri ini memang menawarakan angka yang menggiurkan. Pada tahun 2004, nilai industri ini telah mencapai…… triliun rupiah, dengan angka pertumbuhan …% setahun. Itulah sebabnya, mengapa banyak pemain—mulai dari pemain besar sampai industri rumah tangga—menyesaki industri ini. Teorinya “ada gula ada semut”; makin banyak gula, makin banyak semut yang datang.

Adalah Tirto Utomo, yang pertama kali memelopori air minum dalam kemasan dengan merek Aqua-nya. Dulu seringkali disebut sebagai air mineral, namun karena ada keberatan beberapa pihak, akhirnya disebut sebagai AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Kepioniran Aqua ini membuahkan hasil: pasar yang bertambah besar dan pemain yang bertambah banyak. Apalagi pengolahan AMDK bisa dilakukan mulai dari yang sederhana sampai canggih. Yang penting: bersih dan sehat!

Akibatnya, setelah susah payah mengumpulkan market share (sampai 80%), Aqua terus-menerus mengalami ancaman dari berbagai pemain, yang misinya hampir serupa: mengambil sepersekian saja dari pangsa pasar Aqua.

Situasi ini patut membuat Aqua deg-degan. Siapakah yang paling kelimpungan dengan bertumbuhnya industri air minum isi ulang? Aqua! Mengapa? Soalnya, kemasan bekas galon mereka dijadikan tempat untuk mengisi air minum isi ulang. Sebagai pemain terbesar, sudah risiko jika galon bekas Aqua paling banyak ditemui konsumen.

Aqua pula yang kelabakan dengan banyaknya pemain baru yang mengambil keuntungan dari ke-generik-an merek Aqua. Itulah sebabnya mereka sampai meluncurkan iklan untuk mendidik masyarakat bahwa Aqua itu, ya Aqua (Bukan Ades, bukan Dua Tang, bukan Total, dan bukan yang lain-lain).

Bau sedap industri ini juga sudah masuk ke hidung pemain besar industri makanan dan minuman lainnya. Coca-Cola Company membeli Ades. Belakangan Nestle juga “jahil” masuk ke pasar ini dengan meluncurkan air minum kemasan bermerek Nestle. Lewat kekuatan jalur distribusi yang dimiliki, mereka yakin bisa membanjiri pasar dengan brand mereka. Semuanya, tentu saja dengan iming-iming: air sehat.

Isu paling mutakhir adalah lahirnya sub kategori baru dalam industri ini, yaitu air beroksigen. Premis yang diajukan ke konsumen adalah: masyarakat perkotaan kekurangan zat cair yang mengandung oksigen. Apalagi, polusi di kota besar membuat masyarakat semakin sulit memperoleh udara bersih.

Logikanya, kekurangan itu bisa dipenuhi dengan minum air yang mengandung O2. Walaupun untuk meminumnya perlu ritual tertentu (dibuka dan langsung diminum habis) pemilik merek air minum beroksigen ini tetap percaya diri bahwa pasar air semacam ini bakal bertumbuh. Buktinya, beberapa pemain pun coba-coba masuk ke kategori tersebut. Mereka berupaya menggeser masyarakat ke paradigma baru: air sehat adalah air yang mengandung oksigen cukup.

Bagi yang berduit lebih, mencari air sehat tidak perlu dengan membeli air minum yang sudah dikemas. Mereka bisa membeli Water Treatment System untuk dipasang di rumah atau alat penyaring air yang bukan sekadar membersihkan air ledeng, tetapi juga menghilangkan berbagai penyakit dan membuat awet muda. Alat semacam ini juga menjadi ancaman bagi Aqua di masa mendatang. Apalagi jika pemasar produk ini bisa meyakinkan konsumen dengan perhitungan ekonomis jangka panjang. Plus, jaminan kesehatan di masa mendatang.

Sekarang tinggal bagaimana konsumen teredukasi oleh definisi air sehat. Apakah air yang berasal dari mata air pegunungan? Atau air dengan kadar mineral tinggi? Atau air yang beroksigen? Atau air heksagonal?

Menariknya, semua air minum olahan tersebut nyaris tidak berbeda rasanya. Semua unsur yang menjadi nilai jual, sebenarnya tidak bisa langsung dirasakan oleh orang awam. Selain pelepas dahaga, benefit lain dari air olahan bersifat jangka panjang. Akhirnya, bagi konsumen, air, ya tetap air. Persepsi manusialah yang membuatnya berbeda. Setujukah Anda? (Rahmat Susanta/Majalah Marketing)

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 pada 9:35 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: