Seputar Air

Dapatkan artikel dan tips menarik seputar air dan kesehatan untuk seluruh keluarga Anda

Mencari Air Minum yang Murah dan Aman

leave a comment »

Kecenderungan penggunaan air isi ulang oleh masyarakat di perkotaan semakin meningkat. Buruknya kondisi lingkungan membuat mereka khawatir untuk mengonsumsi air tanah, bahkan air leding yang disediakan pemerintah. Sayangnya, tidak semua air minum isi ulang dikelola dengan baik sesuai persyaratan.

Sebuah depo pengisian air minum isi ulang di kawasan perumahan di Tangerang, misalnya, sudah hampir dua tahun ini tidak menggunakan sinar ultraviolet untuk mensterilkan air yang masuk ke galon.

Pencucian galon di dalam ruang tertutup yang disinari ultraviolet juga sudah tidak lagi dilakukan. Galon-galon milik pelanggan hanya dicuci dengan menyemprotkan air tekanan tinggi kemudian disikat dengan bulu-bulu sikat yang berputar. Terkadang air minum tersebut masih berasa tanah meskipun sudah direbus.

Air minum isi ulang (AMIU) banyak dipilih ibu rumah tangga karena harganya jauh lebih murah dari air minum dalam kemasan dengan merek tertentu. Satu galon air minum isi ulang harganya berkisar Rp 3.000, sedangkan air minum kemasan mencapai Rp 9.000 per gallon.

“Kalau air kemasan dipakai untuk minum dan memasak, bisa habis duit berapa dalam satu bulan,” kata Sundari (42), warga Tangerang. Meskipun sudah memiliki air fasilitas air leding, Sundari hanya menggunakan air itu untuk mandi, mencuci baju, atau menyirami tanaman. Menurut Sundari, air leding tidak enak dikonsumsi karena sering bau atau berasa kaporit. Terkadang malah airnya berwarna hitam dan berpasir.

Lain lagi bagi Lukman (33), warga Duri Kosambi, Jakarta Barat. Demi mendapatkan air bersih untuk masak dan minum, Lukman membeli air pikulan dengan harga Rp 3.000 per pikul (dua jeriken besar).

Air pikulan jelas-jelas tidak bisa langsung diminum dan harus direbus hingga mendidih terlebih dulu sebelum diminum. Sementara itu, AMIU menimbulkan dua pendapat yang berbeda, sebagian menganggap AMIU bisa langsung dikonsumsi sebagian lagi sebaliknya.

Memilih depo

Penggunaan AMIU yang mulai marak sejak awal tahun 2000 sempat menimbulkan pro dan kontra. Para pengusaha air minum dalam kemasan (AMDK) menuding AMIU tidak steril dan tidak bisa langsung diminum seperti produk mereka yang sudah siap pakai.

Tudingan itu tentu saja ditampik keras oleh para pengusaha AMIU. Mereka curiga tudingan itu merupakan trik dagang yang dilakukan para pengusaha AMDK untuk menyingkirkan pesaing.

Demi mendapatkan air bersih yang bisa dikonsumsi setiap hari, kita memang berhak membeli air minum sesuai dengan isi kantong. Namun, sebaiknya, kita juga harus pandai-pandai memilih depo pengisian AMIU karena masing-masing depo memiliki kualitas mesin penyuling air yang berbeda-beda.

Kualitas mesin penyuling air ini sangat menentukan kualitas air yang diproduksi. Seorang pengusaha AMIU di Tangerang mengatakan, mesin dengan kualitas bagus harganya lebih dari Rp 50 juta. Mesin ini menggunakan sistem penyulingan dan ozonisasi yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri. Mesin yang harganya lebih murah biasanya hanya menggunakan sistem penyulingan saja.

Peneliti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Ilyani S Andang, mengatakan, apa pun teknologi yang digunakan, air yang diproduksi harus sesuai dengan standar air minum Indonesia.

Sesuai standar, air minum (air yang bisa dikonsumsi langsung) harus memenuhi syarat fisik, kimia, dan mikrobiologi. Syarat fisik meliputi, air tidak boleh berasa, berwarna ataupun berbau. Sedangkan syarat kimia mengharuskan air bebas dari kandungan bahan kimia berbahaya. Air juga tidak boleh mengandung bakteri patogen (penyebab penyakit).

Banyak penelitian menyebutkan, AMIU memang sudah bebas dari syarat fisik dan kimia. Namun, sebagian AMIU masih belum bebas dari bakteri coliform. Salah satu jenis coliform, yaitu bakteri Escherichia coli (E Coli) bisa menyebabkan diare berat.

Pengawasan kualitas AMIU yang dijual bebas di jalan menjadi tanggung jawab dinas kesehatan masing-masing daerah atau wilayah kota. Hasil pemeriksaan sampel AMIU tahun 2005 dan tahun 2006 yang dilakukan Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat menunjukkan, antara 40 persen-60 persen dari sampel air yang diambil masih mengandung bakteri E Coli.

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Sudin Kesmas Jakarta Pusat Dini Wardiani menyarankan, agar aman, AMIU harus tetap direbus hingga mendidih dalam suhu 100 derajat Celsius. Pemanasan dilakukan selama minimal sepuluh menit agar bakterinya mati. (Lusiana Indriasari dan Dahono Fitrianto)

http://www.kcm.co.id/

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 pada 9:32 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: