Seputar Air

Dapatkan artikel dan tips menarik seputar air dan kesehatan untuk seluruh keluarga Anda

Archive for the ‘Kesehatan’ Category

Masyarakat Jatim Harus Waspada Mengonsumsi Air Minum

leave a comment »

AKHIR-akhir ini bisnis air semakin marak karena air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi makhluk hidup di samping udara. Apalagi bagi makhluk hidup yang namanya manusia. Bisa dibayangkan manakala kehidupan kita di dunia ini kehabisan sumber air dari dalam kandungan Bumi atau tidak ada kegiatan usaha menyuplai air untuk kebutuhan sehari-hari. Terutama air untuk kebutuhan minum.

BERKAITANNYA dengan menjamurnya bisnis air minum belakangan ini, pemerintah sebenarnya telah meregulasi melalui Keputusan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.

Di dalamnya ditetapkan parameter yang sangat penting untuk diketahui konsumen, apakah air minum itu masih merupakan air yang harus melalui proses pengolahan apabila akan dikonsumsi ataukah air minum itu tanpa proses pengolahan karena telah memenuhi syarat kesehatan sehingga dapat langsung diminum?

Kebutuhan kita terhadap air tidak hanya asal berupa air, apalagi untuk air minum, tetapi kita butuh air yang bersih dan sehat. Jika tidak, sudah barang tentu-cepat atau lambat-akan membahayakan kesehatan tubuh kita. Kebutuhan air minum bagi masyarakat konsumen selama ini dipasok oleh badan usaha milik daerah (BUMD), yaitu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan perusahaan swasta, yaitu air minum dalam kemasan (AMDK) yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) dan depo air yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Depo Air (Aspada). Tanpa kecuali, semuanya harus tunduk dan mematuhi Keputusan Menkes itu dalam menjaga kualitas air minum yang diperdagangkan untuk melindungi konsumen.

Ketika bahan baku air olahan PDAM masih disuplai langsung dari mata air yang bersih dan sehat, seperti dari mata air Umbulan untuk daerah Jawa Timur (Jatim), maka pada saat itu suplai air minum ke rumah-rumah konsumen tidak menimbulkan banyak masalah.

Biaya operasional PDAM pun hanya mendorong air dan perawatan jaringan distribusi ke setiap konsumen rumah tangga. Namun, ketika alat produksi dan pipa air jaringan distribusinya sudah banyak yang rusak karena dimakan usia, dan bahan baku air olahan PDAM diambil dari air sungai yang belakangan ini banyak tercemar limbah industri, dan akibat manajemennya sarat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), maka muncullah permasalahan yang merugikan konsumen.

Air keruh, berbau, volume distribusi air kecil dan tidak lancar, konsumen sulit mendapat jaringan baru, dan pelayanan petugas di lapangan yang tidak profesional adalah bentuk-bentuk keluhan konsumen PDAM yang berkembang akhir-akhir ini. Akhirnya, PDAM dipelesetkan menjadi Perusahaan Daerah Air Mandi. Pada gilirannya konsumen mencari alternatif air minum lain, yaitu air minum yang diproduksi AMDK dan depo air.

Koreksi harga AMDK

Industri AMDK pernah mencapai booming-nya dan tumbuh di mana-mana. Kini di setiap daerah pegunungan yang mengandung sumber air telah bercokol lebih dari satu perusahaan AMDK. Merek perdagangan AMDK di pasaran sangat beragam. Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 350 perusahaan AMDK dengan kapasitas produksi 7,10 miliar liter per tahun (Ditjen Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan Depperindag, 3 Juli 2002).

Dalam hal ini, posisi konsumen semakin diuntungkan karena semakin banyak pilihan air kemasan dan harga yang ditawarkan. Namun, harga AMDK dinilai konsumen masih mahal karena ketika harga per liter premium masih di bawah Rp 1.250, harga eceran AMDK yang berisi satu setengah liter di pasaran berkisar Rp 1.750 sampai Rp 2.250. Saat ini, harga per liter premium Rp 1.810, harga eceran AMDK berisi satu setengah liter itu berkisar Rp. 2.000 sampai Rp 2.500. Sedangkan, depo air menawarkan harga Rp 2.500 per galon berisi 19 liter.

Bersamaan dengan adanya perubahan kondisi perekonomian negara kita karena krisis moneter yang berawal pada tahun 1997, di mana daya beli masyarakat menurun dan harga kebutuhan pokok terus merambat naik, maka harga AMDK semakin dirasakan tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat.

Kenyataan ini ternyata membuka peluang usaha baru berupa depo air yang dikenal dengan sebutan “air isi ulang”. Usaha “air isi ulang” ini sesungguhnya sudah berlangsung lama, tetapi booming-nya baru dua tahun belakangan ini.

Menurut catatan Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur, pada tahun 2002 jumlah depo air mencapai 778 unit yang tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa. Di Surabaya, saat ini tercatat tidak kurang dari 300 unit, belum termasuk depo air di luar Surabaya.

Menjamurnya bisnis depo air ini secara tidak langsung mengoreksi harga AMDK yang dinilai konsumen masih terlalu mahal. Namun, bagaimana dengan jaminan keamanan dan kesehatan konsumen yang mengonsumsinya? Itulah persoalan yang muncul ke permukaan akhir-akhir ini.

Akibat salah kaprah

Belakangan ini depo air mendapat koreksi dari pihak perusahaan AMDK sehubungan dengan maraknya penggunaan istilah “air isi ulang”. Isi ulang mengandung pengertian refill, yaitu pengisian kembali dengan produk air minum AMDK dengan merek yang sama.

Namun, kenyataan yang terjadi sebaliknya. “Air isi ulang” itu bukan hasil produksi AMDK merek tertentu seperti tercantum dalam botol/galon kemasan. Karena itu, masuk akal jika pihak perusahaan AMDK keberatan terhadap penggunaan istilah “air isi ulang” dengan memanfaatkan botol/galon AMDK merek tertentu (hal ini jika istilah “isi ulang” dipersepsikan seperti kartu telepon isi ulang yang hanya dapat dilakukan isi ulang pulsa dalam satu jenis operator).

Jika terdapat gangguan kesehatan bagi konsumen akibat mengonsumsinya, maka pihak perusahaan AMDK yang merek dagangnya yang tercantum di dalam botol/galon kemasan “air isi ulang” itu yang akan mendapatkan getahnya. Hal ini bisa saja terjadi manakala proses sterilisasi botol/galonnya tidak sempurna sebelum pengisian “air isi ulang”.

Bisnis “air isi ulang” ini kebanyakan dikelola perorangan (home industry) dan sebagian ada yang dikelola perusahaan. Namun, belum ada satu pun pengusaha yang bergerak di bidang usaha depo air di Jawa Timur yang telah mendapatkan izin dari Depperindag (Kompas, 26 Januari 2002). Istilah “air isi ulang” telah menjadi salah kaprah. Makanya, pemakaian istilah “air isi ulang” itu perlu diluruskan secara bijak agar tidak menyesatkan konsumen. Paling tidak, para pelaku usaha depo air harus mematuhi persyaratan air seperti diatur dalam Keputusan Menkes itu guna melindungi konsumen.

Karena peraturan ini tidak saja untuk mengatur persyaratan dan pengawasan kualitas air produk AMDK, tetapi sesungguhnya juga untuk mengatur dan mengawasi kualitas air PDAM dan depo air apakah telah memenuhi syarat keamanan dan kesehatan konsumen atau tidak.

Beberapa jenis air minum yang harus memenuhi persyaratan menurut Pasal 2 Keputusan Menkes itu adalah air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga, air yang didistribusikan melalui tangki air, air kemasan, dan air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang disajikan kepada masyarakat.

Semuanya itu harus memenuhi syarat kesehatan air minum. Persyaratan kesehatan air minum itu meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif, dan fisik. Pengawasannya dilaksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota meliputi kegiatan: inspeksi sanitasi air baku, proses produksi, jaringan distribusi, dan air minum isi ulang dan air minum dalam kemasan.

Namun masalahnya, dinas kesehatan kabupaten/kota sampai saat ini, entah karena keterbatasan teknologi (alat uji) laboratoriumnya, entah karena keterbatasan sumber daya manusianya, atau entah memang karena mereka malas melakukan pengawasan dan penelitian terhadap kualitas air hasil produksi dari BUMD maupun swasta di daerahnya masing-masing sehingga dirasakan masyarakat bahwa kepedulian pemerintah daerah (pemda) untuk melindungi rakyatnya selaku konsumen masih sangat rendah.

Semestinya pemda melalui dinas terkait itu dapat melakukan inspeksi pengawasan kualitas air produksi BUMD maupun swasta secara berkala sesuai dengan amanat Lampiran III Keputusan Menkes Tanggal 29 Juli 2002 tentang Pelaksanaan Pengawasan Internal Kualitas Air oleh Pengelola Penyediaan Air Minum.

Harus pro-aktif

Mengingat kepedulian pengawasan dan penelitian terhadap kualitas air minum dari dinas kesehatan kabupaten/kota masih minim terhadap keberadaan air minum yang diproduksi oleh BUMD maupun swasta, maka dalam hal ini dari pihak konsumen harus bersikap kritis atau cerewet untuk menanyakan kualitas air yang akan dikonsumsinya.

Karena menurut hasil penelitian tim peneliti dari Laboratorium Teknologi dan Manajemen Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) diketahui terdapat 16 persen dari 120 sampel depo air yang diambil di 10 kota besar di Indonesia terkontaminasi bakteri coliform (Kompas, 26 April 2003).

Hasil penelitian ini mendapat penguatan dari hasil penelitian Badan Pengawas Obat dan Minuman (POM) Jakarta, bahwa sebanyak 19 depo air dari 95 depo air yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya, Medan, Bandung, Semarang, dan Surabaya tidak memenuhi syarat karena mengandung mikroba (Kompas, 23 Mei 2003).

Bahkan ditegaskan, sembilan di antaranya tercemar logam berat (katmium) melebihi batas yang diperbolehkan. Untuk menghindari dampaknya, maka bagi konsumen paling tidak ada dua hal yang perlu diketahui dengan menanyakan langsung kepada pelaku usaha. Dan, pelaku usaha wajib memberikan informasi tentang kualitas air hasil produksinya dan hasil pemeriksaan dari dinas terkait kepada konsumen sesuai dengan masa berlakunya dengan jelas dan jujur. Biasanya sertifikat kualitas air dan masa berlakunya ditempelkan di bagian sudut ruangan terbuka tempat usaha yang dapat dilihat dan dibaca oleh masyarakat umum.

Pertama, menanyakan apakah air tersebut telah memenuhi standar kualitas air minum yang layak dikonsumsi secara langsung atau tidak (masih perlu dimasak). Setidak-tidaknya konsumen harus tahu bahwa air minum itu apakah sudah lolos uji kimia untuk mengetahui kandungan kimia dalam air seperti pH, air raksa, aluminium, besi, dan klorida.

Selain itu, konsumen harus tahu bahwa air minum itu lolos uji fisika, yaitu untuk mengetahui bau, jumlah padat berlarut, kekeruhan, rasa, suhu, dan warna. Tidak kalah pentingnya adalah konsumen harus juga mengetahui bahwa air minum itu harus sudah lolos uji mikrobiologis, yaitu mengetahui bakteri E coli. Singkatnya, konsumen harus mengetahui bahwa air minum itu telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) No 01.3553 Tahun 1996 atau tidak.

Kedua, konsumen harus mempunyai informasi tentang alat produksi air minum dari dinas terkait maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) perlindungan konsumen. Apakah alat produksinya sesuai standar dan selalu dilakukan kalibrasi (uji ulang) setelah melakukan proses produksi dalam waktu lama? Karena setiap alat produksi mempunyai masa aus dalam waktu tertentu dan akan menurunkan kualitas air hasil produksinya.

Dalam konteks ini, dinas kesehatan kabupaten/kota mempunyai wewenang untuk memeriksa dan mengumumkan kepada publik hasil pemeriksaan kalibrasi kondisi peralatan produksi air di setiap perusahaan air minum, termasuk juga terhadap alat produksi yang dimiliki BUMD. Karena hasil produksi air PDAM umpamanya, dinilai konsumen tidak layak disebut air minum. Terutama kalau kita menggunakan parameter persyaratan air minum yang tercantum dalam Keputusan Menkes itu.

Dua hal itu seharusnya dipenuhi oleh setiap perusahaan air minum dan diketahui publik. Kepatuhan untuk melengkapi persyaratan secara berkala dan terus-menerus bagi setiap pelaku usaha air minum akan memberikan jaminan kesehatan konsumen.

Begitu juga bilamana pelaku usaha memberikan informasi secara benar dan jujur kepada konsumen dan memeriksakan hasil produksinya secara pro-aktif di laboratorium sesuai dengan tenggang waktu yang ditetapkan di dalam Keputusan Menkes itu akan memberikan dampak positif bagi keberadaan bisnis air minum pada umumnya.

Tidak ada salahnya jika usaha depo air memproduksi air yang sama kualitasnya atau bahkan mungkin melebihi dari kualitas air hasil produksi AMDK. Sebaliknya, perusahaan AMDK jangan sampai menurunkan kualitas air minum hasil produksinya karena cepat atau lambat akan ditinggalkan konsumen. Memproduksi air minum yang memenuhi standar SNI dengan harga yang kompetitif berarti ikut membangun kesehatan masyarakat dan membantu meringankan beban ekonomi rakyat yang sedang terpuruk ini. Itulah yang harus kita galang bersama!

M SAID SUTOMO Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur

Iklan

Written by oxycjdw1

Agustus 22, 2008 at 2:08 pm

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with ,

Air Kotor Menjadi Bersih dan Sehat

leave a comment »

Air Kotor Menjadi Bersih dan Sehat
Ditulis oleh vivi
Rabu, 09 Juli 2008 14:08

Air saat ini sudah mulai menjadi bahan langka, bahkan di daerah pedesaan yang tandus dan perkampungan di kota-kota besar, mendapatkan air bersih sama seperti mendapat durian runtuh. Berikut ini merupakan artikel cara mendapatkan air bersih dari penyaringan air keruh dengan bahan-bahan yang terdapat di sekitar kita. Metode ini bisa digunakan untuk desa-desa yang terpencil dan tandus serta daerah perkampungan di perkotaan.

Air Kotor Menjadi Bersih dan Sehat

Penjernih Air Sederhana

Air saat ini sudah mulai menjadi bahan langka, bahkan di daerah pedesaan yang tandus dan perkampungan di kota-kota besar, mendapatkan air bersih sama seperti mendapat durian runtuh. Berikut ini merupakan artikel cara mendapatkan air bersih dari penyaringan air keruh dengan bahan-bahan yang terdapat di sekitar kita. Metode ini bisa digunakan untuk desa-desa yang terpencil dan tandus serta daerah perkampungan di perkotaan.

Dengan alat-alat yang relatif sederhana, kita bisa melakukan penyaringan air secara sederhana, namun terbukti cukup ampuh untuk sekedar mendapatkan air untuk keperluan minum sehari-hari.

Keuntungan dari pernjernih air sederhana ini adalah, kita bisa menggunakan air sawah, air payau maupun air sungai yang keruh. Namun harus diingat, ini adalah cara darurat dalam mendapatkan air bersih. Untuk keperluan air minum, Anda harus memasak dahulu air yang sudah dijernihkan ini sampai mendidih. Selain itu, bahan untuk penjernihan air harus sering diganti, karena kotoran yang mengendap akan semakin tebal dan efektivitas penjernihan air akan semakin berkurang.

Pembuatan

1. Sediakan sebuah bak atau kolam dengan kedalaman 1 meter sebagai bak penampungan.
2. Buat bak penyaringan dari drum bekas. Beri kran pada ketinggian 5 cm dari dasar bak. Isi dengan ijuk, pasir, ijuk tebal, pasir halus, arang tempurung kelapa, baru kerikil, dan batu-batu dengan garis tengah 2-3 cm (lihat Gambar)

Penggunaan

1. Air sungai atau telaga dialirkan ke dalam bak penampungan, yang sebelumnya pada pintu masuk air diberi kawat kasa untuk menyaring kotoran.
2. Setelah bak pengendapan penuh air, lubang untuk mengalirkan air dibuka ke bak penyaringan air.
3. Kemudian kran yang terletak di bawah bak dibuka, selanjutnya beberapa menit kemudian air akan ke luar. Mula-mula air agak keruh, tetapi setelah beberapa waktu berselang air akan jernih. Agar air yang keluar tetap jernih, kran harus dibuka dengan aliran yang kecil.

Pemeliharaan

1. Ijuk dicuci bersih kemudian dipanaskan di matahari sampai kering
2. Pasir halus dicuci dengan air bersih di dalam ember, diaduk sehingga kotoran dapat dikeluarkan, kemudian dijemur sampai kering.
3. Batu kerikil diperoleh dari sisa ayakan pasir halus, kemudian dicuci bersih dan dijemur sampai kering.
4. Batu yang dibersihkan sampai bersih betul dari kotoran atau tanah yang melekat, kemudian dijemur.

Sumber : opensource.opencrack.or.id

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 at 9:51 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

Air, Tetaplah Air

leave a comment »

Kebutuhan penduduk urban akan air yang bersih menjadi motif ekonomi lahirnya industri air minum dalam kemasan. Air minum yang bersih, selalu dan akan terus menjadi masalah penduduk urban dalam beberapa dekade ke depan. Meski pemerintah telah memiliki Perusahaan Air Minum (PAM) untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, toh tingkat kepercayaan untuk minum air ledeng (sekalipun sudah direbus) tidak pernah meningkat.

Pasar industri ini memang menawarakan angka yang menggiurkan. Pada tahun 2004, nilai industri ini telah mencapai…… triliun rupiah, dengan angka pertumbuhan …% setahun. Itulah sebabnya, mengapa banyak pemain—mulai dari pemain besar sampai industri rumah tangga—menyesaki industri ini. Teorinya “ada gula ada semut”; makin banyak gula, makin banyak semut yang datang.

Adalah Tirto Utomo, yang pertama kali memelopori air minum dalam kemasan dengan merek Aqua-nya. Dulu seringkali disebut sebagai air mineral, namun karena ada keberatan beberapa pihak, akhirnya disebut sebagai AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Kepioniran Aqua ini membuahkan hasil: pasar yang bertambah besar dan pemain yang bertambah banyak. Apalagi pengolahan AMDK bisa dilakukan mulai dari yang sederhana sampai canggih. Yang penting: bersih dan sehat!

Akibatnya, setelah susah payah mengumpulkan market share (sampai 80%), Aqua terus-menerus mengalami ancaman dari berbagai pemain, yang misinya hampir serupa: mengambil sepersekian saja dari pangsa pasar Aqua.

Situasi ini patut membuat Aqua deg-degan. Siapakah yang paling kelimpungan dengan bertumbuhnya industri air minum isi ulang? Aqua! Mengapa? Soalnya, kemasan bekas galon mereka dijadikan tempat untuk mengisi air minum isi ulang. Sebagai pemain terbesar, sudah risiko jika galon bekas Aqua paling banyak ditemui konsumen.

Aqua pula yang kelabakan dengan banyaknya pemain baru yang mengambil keuntungan dari ke-generik-an merek Aqua. Itulah sebabnya mereka sampai meluncurkan iklan untuk mendidik masyarakat bahwa Aqua itu, ya Aqua (Bukan Ades, bukan Dua Tang, bukan Total, dan bukan yang lain-lain).

Bau sedap industri ini juga sudah masuk ke hidung pemain besar industri makanan dan minuman lainnya. Coca-Cola Company membeli Ades. Belakangan Nestle juga “jahil” masuk ke pasar ini dengan meluncurkan air minum kemasan bermerek Nestle. Lewat kekuatan jalur distribusi yang dimiliki, mereka yakin bisa membanjiri pasar dengan brand mereka. Semuanya, tentu saja dengan iming-iming: air sehat.

Isu paling mutakhir adalah lahirnya sub kategori baru dalam industri ini, yaitu air beroksigen. Premis yang diajukan ke konsumen adalah: masyarakat perkotaan kekurangan zat cair yang mengandung oksigen. Apalagi, polusi di kota besar membuat masyarakat semakin sulit memperoleh udara bersih.

Logikanya, kekurangan itu bisa dipenuhi dengan minum air yang mengandung O2. Walaupun untuk meminumnya perlu ritual tertentu (dibuka dan langsung diminum habis) pemilik merek air minum beroksigen ini tetap percaya diri bahwa pasar air semacam ini bakal bertumbuh. Buktinya, beberapa pemain pun coba-coba masuk ke kategori tersebut. Mereka berupaya menggeser masyarakat ke paradigma baru: air sehat adalah air yang mengandung oksigen cukup.

Bagi yang berduit lebih, mencari air sehat tidak perlu dengan membeli air minum yang sudah dikemas. Mereka bisa membeli Water Treatment System untuk dipasang di rumah atau alat penyaring air yang bukan sekadar membersihkan air ledeng, tetapi juga menghilangkan berbagai penyakit dan membuat awet muda. Alat semacam ini juga menjadi ancaman bagi Aqua di masa mendatang. Apalagi jika pemasar produk ini bisa meyakinkan konsumen dengan perhitungan ekonomis jangka panjang. Plus, jaminan kesehatan di masa mendatang.

Sekarang tinggal bagaimana konsumen teredukasi oleh definisi air sehat. Apakah air yang berasal dari mata air pegunungan? Atau air dengan kadar mineral tinggi? Atau air yang beroksigen? Atau air heksagonal?

Menariknya, semua air minum olahan tersebut nyaris tidak berbeda rasanya. Semua unsur yang menjadi nilai jual, sebenarnya tidak bisa langsung dirasakan oleh orang awam. Selain pelepas dahaga, benefit lain dari air olahan bersifat jangka panjang. Akhirnya, bagi konsumen, air, ya tetap air. Persepsi manusialah yang membuatnya berbeda. Setujukah Anda? (Rahmat Susanta/Majalah Marketing)

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 at 9:35 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

Pilih Air Minum Kemasan atau Isi Ulang?

with 2 comments

  • Terserah Anda, mau pilih air minum yang mana. Yang jelas, harga air minum isi ulang jauh lebih murah, meski standar kesehatannya tak seketat Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Masing-masing tentu memiliki keunggulan dan kekurangan.

Air Kemasan

Kelebihan:

  • Kualitas air terjamin, tapi semuanya tergantung bagaimana konsumen memilih, terutama mengenai tempat membelinya.
  • Kontrol kualitasnya ketat, sehingga kemungkinan terkontaminasi bakteri yang merugikan relatif minim.
  • Mudah didapat.

Kelemahan:

  • Relatif mahal bagi kalangan masyarakat tertentu.
  • Dalam kasus tertentu terjadi kontaminasi bakteri merugikan karena proses distribusi yang tidak baik.

Air Isi Ulang

Kelebihan:

  • Relatif murah, sepertiga harga AMDK.
  • Mudah didapat.
  • Meski tidak semuanya, kualitas air sudah memenuhi standar Departemen Kesehatan. Ini tergantung kualitas mesin, sanitasi, dan bahan baku airnya.

Kelemahan:

  • Lemahnya pengawasan dan pembinaan membuat mutu air cenderung labil (tidak konsisten).
  • Terjadinya salah produksi relatif tinggi, terutama menyangkut pemilihan bahan baku, sanitasi, dan pemilihan alat. Semua itu bisa mempengaruhi kualitas air.
  • Tidak ada aturan yang jelas tentang jasa layanan depo isi ulang menyangkut kualitas produksi, sehingga tidak ada perlindungan hukum secara khusus terhadap konsumen jika terjadi kasus yang tidak diinginkan.
  • Proses pengemasannya hanya mengandalkan teknologi sederhana yang seringkali menjadi penyebab terkontaminasinya air oleh bakteri.

Sumber: berbagai sumber (konsumen, Depkes, Badan POM, dan pelaku usaha depo air minum)

Kiat Memilih Air Kemasan

  • Pilih tempat penjualannya. Jangan membeli di sembarang tempat. Kemasan hebat dan harga supermahal bukanlah jaminan.
  • Cermati labelnya, apakah tercantum alamat produsen, komposisi, proses yang dipakai untuk sterilisasi, juga petunjuk penyimpanan?
  • Cek keutuhan segelnya.
  • Cek kualitas air secara fisik, yakni dari kejernihan, bau, serta warnanya.
  • Untuk memastikannya, bisa melakukan uji kimiawi di laboratorium.@

Air Isi Ulang: Sumber Baku Tercemar

  • Ketua Tim Peneliti IPB, Dr. Suprihatin, menjelaskan bahwa sampel air minum di depo isi ulang yang diteliti di 10 kota besar Indonesia diketahui tercemar bakteri coliform.

Jenis bakteri ini tidak secara langsung menimbulkan penyakit, tapi kehadirannya menunjukkan tingkat sanitasi yang rendah.

Semakin tinggi tingkat kontaminasi bakteri ini, risiko kehadiran bakteri patogen lain yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akan semakin tinggi pula.

Keberadaan bakteri tersebut menurutnya bisa disebabkan oleh beberapa hal. Mungkin karena sumber air bakunya tercemar atau pemaparan radiasi dengan sinar ultraviolet kurang memadai, sehingga bakteri tidak terbasmi selama penyinaran. Mutu peralatan yang digunakan para pengusaha juga bervariasi dan tidak semua memenuhi standar produk.

Sementara itu, hasil pengujian laboratorium yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atas kualitas air minum di sejumlah depo isi ulang menunjukkan adanya cemaran mikroba dan logam berat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.907/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, pengawasan mutu air pada depo air minum menjadi tugas dan tanggung jawab Dinas Kesehatan kabupaten atau kota.

Namun, sebagai upaya perlindungan kepada masyarakat, BPOM melakukan pengambilan contoh dan pengujian laboratorium terhadap mutu air di 95 depo di lima kota. Sebanyak 29 depo di Jakarta dan sekitarnya, 9 depo di Medan, 20 di Bandung, 14 di Semarang, dan 23 di Surabaya. Fokus pemeriksaan itu pada sumber air baku, proses sterilisasi, dan pengambilan contoh produk untuk diuji di laboratorium.

Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan, Prof. Dr. Ir. Dedi Fardiaz, M.Sc, menambahkan bahwa sebagian besar air baku berasal dari sumber mata air yang diangkut dengan tangki (78 depo), air PAM (10), dan air tanah (7). Proses sterilisasi untuk mengolahnya menggunakan sinar ultraviolet/UV (53 depo), ozon (2), UV dan ozon (28), UV, ozon, dan osmosis balik (1), serta cara lain (11).

Hasilnya, 76 depo memenuhi syarat mutu, sedangkan 19 lainnya tidak memenuhi syarat karena mengandung mikroba. Bahkan sembilan di antaranya tercemar logam berat (kadmium) melebihi batas yang diperbolehkan.

Dianggap Masalah

  • Berdasarkan pantauan SENIOR, kebanyakan konsumen tidak begitu peduli dengan hasil penelitian tersebut.

Rudi, pengemudi angkutan kota di terminal Pasar Minggu, mengaku lebih memilih air minum isi ulang dibandingkan dengan air kemasan bermerek dengan alasan lebih murah.

“Selama ini memang tidak ada persoalan. Terus terang, saya tidak tahu hasil penelitian itu. Tapi, jika airnya memang bersih dan layak dikonsumsi tentu tidak ada masalah,” ujarnya.

Meski begitu, sebagian konsumen mengharapkan kepedulian pemerintah maupun pengusaha depo isi ulang untuk memperhatikan mutu kualitas bahan baku air serta peralatan yang digunakan. Jamilah misalnya, mengaku dalam seminggu tak kurang dari tiga galon (@ 19 liter) air isi ulang itu dihabiskan untuk keperluan keluarga dan warung makannya. “Saya hanya lihat tempatnya. Kalau memang bersih, kemungkinan airnya juga bersih. Kalaupun tanya, paling sumber airnya. Kebanyakan dari PDAM dan air tanah,” tambahnya.

Sebagian pemilik depo air isi ulang justru mempertanyakan kepedulian pemerintah dan instansi terkait untuk selalu memberikan pembinaan dan pengawasan. Beberapa pemilik depo berpendapat, selama ini pemerintah justru menanggapi keberadaan depo itu sebagai masalah. Padahal, menurut mereka, masyarakat sebagai konsumen sangat terbantu dengan keberadaan depo isi ulang.

“Kami ini ibarat orang menjual kepercayaan, sekali tidak dipercaya habislah usaha. Karena itu, saya selalu menjaga bahan baku dan perawatan peralatan. Lebih dari itu, pemerintah juga harus selalu mengawasi pengusaha depo yang tidak benar, agar kami tidak ikut dirugikan,” ujar Sumarno pemilik depo air di Pejaten, Jakarta Selatan.

Kompas.com

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 at 9:33 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

Mencari Air Minum yang Murah dan Aman

leave a comment »

Kecenderungan penggunaan air isi ulang oleh masyarakat di perkotaan semakin meningkat. Buruknya kondisi lingkungan membuat mereka khawatir untuk mengonsumsi air tanah, bahkan air leding yang disediakan pemerintah. Sayangnya, tidak semua air minum isi ulang dikelola dengan baik sesuai persyaratan.

Sebuah depo pengisian air minum isi ulang di kawasan perumahan di Tangerang, misalnya, sudah hampir dua tahun ini tidak menggunakan sinar ultraviolet untuk mensterilkan air yang masuk ke galon.

Pencucian galon di dalam ruang tertutup yang disinari ultraviolet juga sudah tidak lagi dilakukan. Galon-galon milik pelanggan hanya dicuci dengan menyemprotkan air tekanan tinggi kemudian disikat dengan bulu-bulu sikat yang berputar. Terkadang air minum tersebut masih berasa tanah meskipun sudah direbus.

Air minum isi ulang (AMIU) banyak dipilih ibu rumah tangga karena harganya jauh lebih murah dari air minum dalam kemasan dengan merek tertentu. Satu galon air minum isi ulang harganya berkisar Rp 3.000, sedangkan air minum kemasan mencapai Rp 9.000 per gallon.

“Kalau air kemasan dipakai untuk minum dan memasak, bisa habis duit berapa dalam satu bulan,” kata Sundari (42), warga Tangerang. Meskipun sudah memiliki air fasilitas air leding, Sundari hanya menggunakan air itu untuk mandi, mencuci baju, atau menyirami tanaman. Menurut Sundari, air leding tidak enak dikonsumsi karena sering bau atau berasa kaporit. Terkadang malah airnya berwarna hitam dan berpasir.

Lain lagi bagi Lukman (33), warga Duri Kosambi, Jakarta Barat. Demi mendapatkan air bersih untuk masak dan minum, Lukman membeli air pikulan dengan harga Rp 3.000 per pikul (dua jeriken besar).

Air pikulan jelas-jelas tidak bisa langsung diminum dan harus direbus hingga mendidih terlebih dulu sebelum diminum. Sementara itu, AMIU menimbulkan dua pendapat yang berbeda, sebagian menganggap AMIU bisa langsung dikonsumsi sebagian lagi sebaliknya.

Memilih depo

Penggunaan AMIU yang mulai marak sejak awal tahun 2000 sempat menimbulkan pro dan kontra. Para pengusaha air minum dalam kemasan (AMDK) menuding AMIU tidak steril dan tidak bisa langsung diminum seperti produk mereka yang sudah siap pakai.

Tudingan itu tentu saja ditampik keras oleh para pengusaha AMIU. Mereka curiga tudingan itu merupakan trik dagang yang dilakukan para pengusaha AMDK untuk menyingkirkan pesaing.

Demi mendapatkan air bersih yang bisa dikonsumsi setiap hari, kita memang berhak membeli air minum sesuai dengan isi kantong. Namun, sebaiknya, kita juga harus pandai-pandai memilih depo pengisian AMIU karena masing-masing depo memiliki kualitas mesin penyuling air yang berbeda-beda.

Kualitas mesin penyuling air ini sangat menentukan kualitas air yang diproduksi. Seorang pengusaha AMIU di Tangerang mengatakan, mesin dengan kualitas bagus harganya lebih dari Rp 50 juta. Mesin ini menggunakan sistem penyulingan dan ozonisasi yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri. Mesin yang harganya lebih murah biasanya hanya menggunakan sistem penyulingan saja.

Peneliti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Ilyani S Andang, mengatakan, apa pun teknologi yang digunakan, air yang diproduksi harus sesuai dengan standar air minum Indonesia.

Sesuai standar, air minum (air yang bisa dikonsumsi langsung) harus memenuhi syarat fisik, kimia, dan mikrobiologi. Syarat fisik meliputi, air tidak boleh berasa, berwarna ataupun berbau. Sedangkan syarat kimia mengharuskan air bebas dari kandungan bahan kimia berbahaya. Air juga tidak boleh mengandung bakteri patogen (penyebab penyakit).

Banyak penelitian menyebutkan, AMIU memang sudah bebas dari syarat fisik dan kimia. Namun, sebagian AMIU masih belum bebas dari bakteri coliform. Salah satu jenis coliform, yaitu bakteri Escherichia coli (E Coli) bisa menyebabkan diare berat.

Pengawasan kualitas AMIU yang dijual bebas di jalan menjadi tanggung jawab dinas kesehatan masing-masing daerah atau wilayah kota. Hasil pemeriksaan sampel AMIU tahun 2005 dan tahun 2006 yang dilakukan Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat menunjukkan, antara 40 persen-60 persen dari sampel air yang diambil masih mengandung bakteri E Coli.

Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Sudin Kesmas Jakarta Pusat Dini Wardiani menyarankan, agar aman, AMIU harus tetap direbus hingga mendidih dalam suhu 100 derajat Celsius. Pemanasan dilakukan selama minimal sepuluh menit agar bakterinya mati. (Lusiana Indriasari dan Dahono Fitrianto)

http://www.kcm.co.id/

Written by oxycjdw1

Agustus 21, 2008 at 9:32 am

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan

Tagged with

12 Jurus Mudah Hidup Ramah Lingkungan

leave a comment »

Siapa bilang pola hidup ramah lingkungan merupakan pilihan yang sulit diwujudkan? Sungguh mudah hidup ramah lingkungan. Dengan praktik-praktik keseharian yang sederhana, beban Bumi akan buat gurangi, demikian kesimpulan yang disebukan dalam situs jejaring berita lingkungan hidup www.enn.com.

Perhatian utama yang harus diacu adalah konsumsi energi dan air, jangan lupakan juga buangan limbah alias sampah, dan beban gaya hidup manusia terhadap kelestarian Bumi pun akan berkurang drastis.

ENN menawarkan 12 jurus mudah untuk memulai hidup yang ramah lingkungan sebagai berikut:

1. Ganti lampu pijar dengan lampu FLB (fluorescent light bulbs) atau CFLs (compact fluorescent bulbs).

Memang, harga bohlam pijar lebih murah daripada lampu CFLs, tapi bila semua lampu di rumah menggunakan lampu yang hemat energi ini maka tagihan listrik bisa ditekan hingga 30 persen dari kondisi semula.

Menurut hasil penelitian Badan Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (EPA), lampu jenis CFLs menyerap listrik 75 persen dari lampu pijar biasa dan usianya bisa 10 kali lebih panjang daripada bohlam pijar.

2. Jaga kondisi kendaraan dalam performa yang terbaik.

Memang akan lebih baik lagi kalau semua orang menggunakan moda transportasi sepeda atau transportasi umum, tapi bagi mereka yang sangat terpaksa harus menggunakan kendaraan pribadi harus memastikan kondisi kendaraannya adalah yang terbaik.

Gantilah oli secara rutin dan pertahanan ban yang performanya bagus, sehingga hemat bahan bakar. Taatilah semua peraturan berlalu lintas, ingat bahwa bahan bakar yang digunakan akan lebih hemat bila laju kendaraan tidak terlalu kencang melaju, patuhi ketentuan batas maksimal kecepatan.

3. Maksimalkan jumlah baju yang akan dicuci di mesin cuci.

Bila mesin bekerja dengan beban cucian yang tidak maksimal, tentu akan memakan energi yang lebih besar, jadi pastikanlah semua baju dicuci pada waktu bersamaan agar beban maksimal mesin tercapai dan energi yang dibutuhkan lebih kecil.

4. Bila mencuci baju, gunakan saja air biasa, tidak perlu air yang panas karena air panas untuk mencuci baju tentu membutuhkan energi yang lebih banyak daripada air biasa. Toh hasil mencuci dengan air yang panas dan air yang dingin akan sama saja bagi sebagian besar jenis pakaian.

5. Copot kabel peralatan listrik jika sudah tidak lagi digunakan.

Boleh saja komputer sudah dimatikan lewat satu klik di tombol “sign-off”, tapi selama masih ada lampu yang menyala di piranti itu, maka pertanda listrik masih menjalar di alat elektronik tersebut. Jadi … matikan, dan cabut kabelnya. Entah itu komputer, radio, televisi, atau mesin pencetak yang sudah tidak digunakan lagi, agar listrik benar-benar tidak mengalir lagi.

Menjalani gaya hidup yang ramah lingkungan memang sedikit meminta orang lebih berpikir panjang soal pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Sebagai contoh soal penggunaan botol minuman, memang air di dalam botol kemasan lebih ringkas dan gampang dibawa tapi dampak menggunakan botol macam ini ternyata tidaklah sesederhana itu.

Proses pembuatan botol kemasan air minum menggunakan plastik berbahan baku bensin, belum lagi tahap pengirimannya ke pasar yang sangat boros akan energi.

Gaya hidup “hijau” akan lebih memilih langkah lain daripada membeli air di botol kemasan.

6. Saring air hingga layak minum, lalu minum air itu dari botol yang bisa digunakan berulang-ulang jika hendak bepergian.

7. Persiapkan diri saat makan di restoran atau berbelanja di pusat perbelanjaan.

Kalau berencana makan di restoran yang menyajikan porsi super besar, maka bawalah serta tempat bekal Tupperware untuk membawa sisa makanan yang tidak habis disantap agar makanan tidak mubazir.

8. Lalu jika ingin berbelanja, jangan lupa bawa tas atau keranjang untuk menenteng barang belanjaan, kurangi penggunaan plastik agar tidak menambah sampah dan membuang energi untuk proses daur ulang plastik.

Pola konsumsi makanan juga harus dilibatkan dalam gaya hidup ramah lingkungan. Pilihlah makanan yang kemasannya minimalis, karena akan lebih baik memakan sesuatu dari bungkus yang tidak terlalu banyak menghasilkan sampah.

9. Program penggalakan konsumsi produk-produk lokal.

Mesti diingat bahwa produk makanan yang diimpor atau didatangkan dari daerah serta negara lain akan berkonsekuensi pada rute pengiriman.

Makin jauh sumber makanan itu datang, maka pesawat, kapal, truk yang dilibatkan untuk mengirimnya pun pasti sangatlah masif. Dengan mengkonsumsi produk pangan lokal, tentunya petani setempat akan terangkat pendapatannya dan jejak karbon akibat transportasi pangan impor akan banyak berkurang.

10.Tanam pohon di halaman sendiri.

Sederhana kedengarannya, tapi cara ini sangat efektif dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, karena ia bisa menyerap gas karbon sepanjang usianya.

Selain itu pohon pun bisa berfungsi sebagai pendingin rumah yang alami pada hari yang terik, sehingga tidak perlu lagi memasang mesin pendingin ruangan di rumah-rumah atau di kantor-kantor.

11. Pola konsumsi juga harus dilibatkan untuk meminimalisir pembelian barang-barang baru. Singkat kata, kalau bisa menggunakan barang bekas maka kurangilah keinginan untuk membeli barang-barang baru.

12. Gunakan energi berbahan bakar ramah lingkungan. Bahan bakar yang sumbernya energi terbarukan, seperti angin dan sinar matahari.

Kalau bisa memilih, pilihlah energi dari sumber-sumber terbarukan, dengan cara ini konsumen pun turut memilihkan “pola hidup hijau” buat korporat-korporat besar agar mereka berpihak pada jenis usaha ini.

Setiap orang punya kesempatan dan peluang yang sama untuk berpaling ke gaya hidup “hijau”, tinggal pertanyaannya mau memulai Kapan?, atau Kapan lagi?(ANT)

Written by oxycjdw1

Agustus 19, 2008 at 3:26 pm

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan, Lingkungan

Bau mulut Tak sedap, Minumlah yang banyak

leave a comment »

SEMUA orang pasti setuju bahwa nafas tak sedap adalah hal yang sering membuat jengkel, memalukan dan merusak suasana saat berkomunikasi dengan orang lain. Saat ini, tidak kurang dari 90 juta orang mengidap kelainan bau mulut kronis atau juga dikenal dengan istilah halitosis.

Jika Anda mengalami problem yang satu ini, berikut adalah tip-tip mudah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya :

1. Jangan biarkan lidah Anda seperti karpet kotor
Bau mulut seringkali menyerang ketika orang tidak menjaga kebersihan dan kesehatan mulut. Aroma tak sedap biasanya timbul akibat pembusukan remah atau sisa-sisa makanan yang terjebak dalam gigi Anda. Itulah sebabnya mengapa menyikat gigi dan flossing secara teratur sangat penting bagi kesehatan gigi dan mulut.

Tapi ada yang tak boleh dilupakan adalah menyikat lidah untuk membersihkan bakteri. Lidah adalah organ yang secara mikroskopik seperti halnya sebuah karpet. Ada jutaan filamen dalam lidah yang dapat membuat partikel, bakteri dan sisa-sisa makanan terjebak. Dengan membersihkan lidah secara teratut menggunakan sikat, sendok atau pembersih khusus lidah, bakteri penyebab nafas busuk dalam mulut akan berkurang.

Menggunakan penyegar mulut atau mouthwash juga bukan ide yang buruk, tetapi langkah ini hanya bersifat sementara. Memilih penyegar mulut sepertinya lebih praktis sebelum Anda makan malam dengan sang kekasih. Tetapi upaya ini hanyalah menyamarkan aroma bau mulut saja, tanpa mengatasi masalah Anda yang sebenarnya.

2. Selalu kunyah permen karet.
Percaya atau tidak, saliva atau air liur adalah senjata paling ampuh untuk membasmi nafas tak sedap. Itulah sebabnya ketika mulut Anda kering, yang seringkali disebabkan konsumsi obat atau penyakit, akan menyebabkan masalah bau mulut.

Selain dapat membersihkan mulut dari partikel makanan dan bakteri, air ludah juga dapat mengikis aroma nafas tak sedap. Jika Anda bertanya kenapa mulut selalu bau ketika bangun tidur, hal ini terjadi karena produksi alir liur menurun ketika tidur, sehingga membuat partikel dan aroma tak sedap bertahan dan melekat dalam mulut.|

Itulah sebabnya permen karet tanpa gula sangat berfaedah, karena dengan mengunyahnya akan merangsang produksi air liur. Pilihlah permen karet dengan pemanis xylitol karena pemanis ini tidak hanya dapat meningkatkan produksi air liur ,tetapi bekerja mencegah pertumbuhab bakteri dalam mulut

3. Gunakan kayu manis.
Sebuah riset terbaru penggunaan permen karet di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kayu manis dapat mengatasi masalah bau mulut. Tidak seperti bahan lainnya, kayu manis tidak hanya menyamarkan aroma yang tak sedap. Rempah alami ini juga mengandung zat yang tampaknya dapat menurunkan konsentrasi bakteri di dalam mulut. Oleh karena itu, hindarilah permen karet yang mengandung gula karena justru akan merusak gigi, tetapi pilihlah permen karet tanpa gula dengan aroma kayu manis.

4. Minum air lebih banyak.
Para ahli mengindikasikan, semakin tua usia seseorang akan semakin rentan mengalami dehidrasi. Anda mungkin tidak pernah sadar jika Anda kehausan dan tubuh memerlukan lebih banyak cairan. Maka dari itu, biasakanlah minum secara teratur karena meminum air akan menekan pertumbuhan bakteri dalam mulut. Selain itu, minum air secara teratur juga membuat Anda lebih segar dan sehat.

5. Atasi penyebab lainnya.
Meski kebanyakan bau mulut dapat diatasi dengan langkah mudah dan pola hidup yang higienis, ada kalanya bau mulut juga disebabkan masalah gigi atau penyakit lain yang sangat jarang. Datanglah ke dokter gigi jika bau busuk dalam mulut Anda menetap dan tak kunjung hilang.

Dokter akan memeriksa kemungkinan terjadinya gigi berlubang, gigi busuk, atau bahkan masalah gusi yang menyebabkan mulut menjadi tak sedap. Bila bau mulut Anda penyebabnya tidak jelas, ini dapat menjadi sinyal atau pertanda adanya problem kesehatan yang lebih serius.

Kasus yang jarang ini, bisa jadi merupakan indikasi adanya infeksi, gagal ginjal atau liver. Oleh sebab itu, Anda harus memeriksakan ke dokter ahli jika dokter gigi tidak dapat menemukan secara pasti penyebab bau mulut Anda.

6. Gunakan water pick.
Anda tidak bisa membersihkan dengan sempurna seluruh mulut dengan hanya mengandalkan sikat gigi. Menggunakan sejenis alat penyemprot khusus gigi yang disebut water pick, Anda bsia memberihkan semua bagian mulut, gusi dan sela-sela di antara gigi Anda. Jika sisa-sisa makanan menempel di antara gigi dan sikat tak bisa mencapainya, makanan itu akan membusuk dan baru akan tersapu bila Anda melakukan flossing. Dengan alat ini, Anda tak perlu menunggu hingga makanan membusuk.

Written by oxycjdw1

Agustus 19, 2008 at 3:25 pm

Ditulis dalam Air Minum, Kesehatan